YOGYAKARTA, (TRIBUNEKOMPAS) By: Astri.
- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Marzuki Alie, menilai calon presiden yang berlatar belakang pengusaha rawan dengan politik kepentingan. Politik kepentingan yang dimaksud Marzuki misalnya cara-cara yang dilakukan untuk melanggengkan kepentingan pribadi, seperti bisnis pribadi atau kelompok.
“Maka dari itu, kalau mau menjadi baik, kami menilai seharusnya calon presiden yang ada bukan dari kalangan pebisnis," kata Marzuki usai menghadiri ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA) di Yogyakarta, Senin 9 Juli 2012. "Akan sulit memisahkan (motifnya) jika nanti memimpin."
Dia mengatakan, Wakil Ketua Dewan Pembinan Partai Demokrat itu, Indonesia sebenarnya punya banyak pilihan dengan adanya calon-calon pemimpin yang berkompeten. “Namun, mereka masih tertutup awan yang namanya oligarki politik,” kata dia.
Marzuki mencontohkan, dari pengalamannya menyambangi dan melihat sistem politik yang berjalan di Negeri Tirai Bambu Cina, dari sepuluh politbiro yang ada, tujuh diantaranya dipimpin dari kalangan insinyur atau professional.
“Sebelum ke politik, mereka itu betul-betul berkarir dari bawah, mulai dari pekerja pabrik, chairman, dan baru kemudian baru jadi elit politik. Semua tidak instant,” kata dia.
Proses bertahap itu, menurut Marzuki, membuat para pemimpin politik yang terpilih di Cina benar-benar paham persoalan yang ada dan dihadapi. “Bicara ekonomi piawai, bicara politik pun nyambung. Tidak ada yang tiba-tiba jadi presiden,” ujarnya.
Perkataan Marzuki ini seolah menyentil Aburizal
Bakrie yang sudah memproklamirkan diri sebagai calon presiden dari
Partai Golkar. Seperti diketahui, Aburizal dikenal sebagai pengusaha
kawakan yang pernah memimpin Bakrie & Brothers. Ladang bisnisnya
tersebar dari sektor pertambangan, perkebunan, asuransi, sampai
perusahaan media.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar