JAKARTA, TRIBUNEKOMPAS. By: ANTO.
-Yeni Wahid mengatakan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar harus introspeksi diri pasca-seorang tenaga kerja wanita Indonesia dihukum pancung di Arab Saudi beberapa hari yang lalu.
"Cak Imin (Muhaimin Iskandar) harus introspeksi diri, bahwa kebijakan-kebijakan ataupun keseriusannya menangani TKI terbukti gagal," katanya setelah mengikuti acara tahlil untuk mendiang Ruyati binti Saboti Saruna di depan Istana Negara, Senin malam, 20 Juni 2011.
Yeni juga mengatakan kekecewaannya terhadap Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).
"Dari namanya saja (Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan BNP2TKI) menunjukkan sebuah badan yang mengurusi tenaga kerja. Sekarang malah saling lempar tanggung jawab," katanya.
Saat wartawan menanyakan tentang Muhaimin Iskandar yang tak kunjung berkomentar setelah eksekusi Ruyati, Yeni mengatakan memang sebenarnya bukanlah komentar yang dibutuhkan, "Tapi tindakan nyata," tuturnya.
Yeni mengatakan kasus Ruyati ini merupakan bentuk pengabaian fakta. Dengan alasan, putri almarhumah sudah tahu kasus yang menimpa sang ibu sejak Januari 2011 lalu dan sudah meminta bantuan kepada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, BNP2TKI, serta Kementerian Luar Negeri, tapi tak ada respons.
Menurutnya, kalau pemerintah mengatakan baru sekarang mendengar eksekusi terhadap Ruyati, memang perlu dipertanyakan kenapa ada kebuntuan informasi di lingkungan birokrasi sendiri. "Karena KJRI di Arab Saudi sendiri sudah lama mendengar kasus ini dan kabarnya mereka sudah melapor kepada Kementerian Tenaga Kerja, BNP2TKI, tapi tetap tidak ada tanggapan," katanya.
Yeni mengenang kesuksesan Presiden keempat yang tak lain ayahnya sendiri, Abdurrahman Wahid, dalam menyelamatkan seorang TKW yang telah diancam hukuman mati di Arab Saudi.
Menurutnya, ketika pejabat negara mengatakan hukum di Arab Saudi luar biasa susah ditembus, di zaman Gus Dur beliau berhasil melakukan high diplomacy (diplomasi tingkat tinggi) langsung melobi kepala negara Arab Saudi. Akhirnya, nyawa Siti Zaenab yang juga terancam hukuman mati pun terselamatkan.
"Jadi memang sudah ada Presiden, sehingga kalau pemerintah mau serius bisa dilakukan upaya-upaya menyelamatkan anak bangsa (Ruyati)," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar